Home » , » dr Hj Widya Kandi Susanti MM: Perempuan Penjelajah

dr Hj Widya Kandi Susanti MM: Perempuan Penjelajah

Written By Harian Semarang on Rabu, 16 November 2011 | 04.10

dr Hj Widya Kandi Susanti MM
Bupati Kendal dr Hj Widya Kandi Susanti MM layak disebut perempuan penjelajah. Dia bertekad mengunjungi 284 desa yang ada di wilayahnya demi menyerap aspirasi rakyat. Butuh ketahanan fisik yang luar biasa. Apa resepnya?

SEJAK 27 September lalu, Bupati Kendal dr Hj Widya Kandi Susanti MM mulai melakukan jelajah desa yang sudah diprogramkan sejak dia dilantik 23 Agustus 2010. Untuk mengunjungi 284 desa dari 20 kecamatan yang ada, butuh waktu sekitar dua sampai tiga bulan. Mampukan dia melakukannya?

“Insya Allah. Semua sudah saya programkan. Saya harus membaur dengan rakyat, agar rakyat mengenal pemimpinnya, sekaligus saya bisa menyerap aspirasi yang ada di masyarakat,” katanya mantap saat ditemui Harsem di suatu pagi.

Tentu ini bukan program main-main. Tidak sekadar turba, tapi benar-benar ingin memotivasi masyarakat dan pejabat agar lebih maksimal dalam menjalani hidup keseharian, punya tujuan pasti, dan bisa saling interaksi. Sebab harus diakui, banyak permasalahan di masyarakat yang sering tidak terdengar pemimpinnya. Dan, Widya Kandi bukan tipe pemimpin seperti itu. Bukan pemimpin yang mau begitu saja menerima laporan bawahannya.

Suatu ketika, Widya Kandi pernah menerima laporan dari bawahan tentang situasi desa dan kecamatan yang zero permasalahan. Baik soal kemiskinan, penyakit, atau soal-soal pelik lainnya. “Saya paling benci kalau dilapori keadaan yang zero-zero. Katanya tidak ada warga yang terkena penyakit, tidak ada warga yang miskin, dan lain sebagainya. Itu menyesatkan, sebab kita tidak bisa mencari solusi penyelesaian. Dan benar juga, setelah saya cek, ternyata banyak warga yang menderita sakit TBC. Coba kalau itu dilaporkan apa adanya, pasti segera bisa diobati dan dilakukan pencegahan,” tuturnya.

Bupati pun memberi arahan pada semua bawahan, jangan takut melaporkan keadaan suatu wilayah apa adanya. Tak cukup sampai di situ, Widya Kandi pun terjun langsung ke masyarakat setiap hari. Pernah dalam sehari dia nekat mengunjungi 16 desa. Luar biasa!! Apa resepnya?

“Semangat, ikhlas, dan selalu bahagia atau senang. Saya memimpin Kendal ini tanpa beban., jadi setiap hari enjoy. Sampai-sampai pejabat yang lain heran. Bahkan ada yang masuk angin dan kerokan. Banyak juga yang tanya resepsnya, ha..ha..ha,” ujar bupati mengenang.

Memang tak sekadar modal semangat, ikhlas, dan bahagia saja untuk menjangkau kunjungan sekian desa setiap hari. Sebagai dokter, Widya Kandi juga menyadari arti pentingnya menjaga kesehatan. Dia pun mewarisi keterampilan ibunya meracik minuman suplemen kesehatan berbahan baku herbal. Seperti ramuan dari polo, kencur, merica, cengkeh, dan jahe. Bahan-bahan itu setelah dicuci kemudian digeprak, direbus sampai mendidih, dan diminum jika badan sudah mulai terasa loyo atau capai.

“Ramuan itu bisa menghilangkan rasa kemeng, mencegah dan mengobati masuk angin, dan saat tidur bisa pulas sehingga paginya segar kembali. Terkadang saya juga membuat ramuan kunir asem yang ditambah sirih dan tumbar satu genggam. Kalau ramuan yang ini bisa melancarkan peredaran darah, menghilangkan infeksi. Ada lagi resep ramuan kinang yang terdiri dari sirih, gambir, dan kapur sirih yang bisa mencegah kanker kandungan,” katanya panjang lebar membocorkan resepnya.

Dari kunjungannya ke desa-desa, Widya Kandi jadi tahu kebutuhan rakyatnya. Banyak proyek jalan desa yang mangkrak gara-gara kurang material langsung bisa diselesaikan. Kebutuhan alat-alat olahraga pemuda desa yang biasanya hanya jadi wacana juga bisa dirampungkan.

Satu lagi yang perlu dicatat, sebagai bupati, Widya Kandi tidak ingin disubyo-subyo ketika mengunjungi sebuah desa. “Saya tidak perlu disambut secara mewah. Saya hanya ingin mendengar permasalahan sekaligus menyerap aspirasi rakyat. Perekonomian harus jalan, rakyat harus sehat, pendidikan harus terjamin,” katanya mengingatkan.

Bersama bawahannya, Widya Kandi pun membawa bekal sendiri. Jika tiba waktunya makan, biasanya bersama rombongannya, bupati mencari tempat yang asyik untuk makan sambil lesehan. Misalnya di hutan. Sampai-sampai bawahannya heran, sebab mereka sudah menyiapkan sebuah tempat nyaman seperti rumah makan atau restoran.

“Kalau cuma di restoran saya bisa. Tapi kan bukan itu tujuannya. Itu sih namanya bupati wisata kuliner. Tidak perlu yang mewah, yang penting pesan ke masyarakat sampai. Toh mereka sudah menyambutnya dengan antusias dan luar biasa, tidak perlu direpoti lagi,” ungkapnya.

Tentu sikap merakyat dan mau terjun langsung ke masyarakat seperti ini patut ditiru kalangan pejabat lainnya. Misalnya para wakil rakyat. Tidak sekadar mendengar, tetapi terjun langsung ke masyarakat dan mencarikan solusi permasalahan yang ada. (udins/dnr)

BioWidya
Nama   : dr H Widya Kandi Susanti MM
Tempat/tgl lahir  : Semarang, 26 Mei 1964
Agama   : Islam
Anak : 4 ( empat ) orang
Jabatan terakhir  : Anggota DPRD Kabupaten Kendal, Tahun 2009-2014 (Wakil Ketua DPRD)
Pendidikan terakhir  : Magister Management Universitas Semarang, lulus tahun 2006
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Gagas - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger